Jakarta Modest Fashion Week (JMFW) tak hanya ditujukan untuk para pencinta busana muslim.

Ditemui saat konferensi pers, Kamis (7/6), Franka Soeria, Founder Modest Fashion Week Global, mengatakan pekan mode yang diadakan di Jakarta kali ini memang berbeda. Sebab, meski mengusung modest fashion, tapi busana yang ditampilkan tak hanya berfokus pada jilbab.

Dalam arti, siapapun bisa datang dan menggunakan pakaian sopan yang selama ini dikenal dengan modest wear. Menurutnya, kalau di luar negeri, modest wear itu lebih dilihat ke arah lifestyle-nya.

Modest fashion week itu lebih luas, yang tak berjilbab pun bisa pakai,” ujar Franka. Sehingga, melihat besar target di Indonesia, desainer yang dilibatkan pun tak hanya dari dalam negeri. Tapi juga dari luar negeri seperti Turki dan Amerika Serikat.

Sedangkan desainer muda Indonesia yang akan unjuk gigi antara lain Medina Zein, Anggia Mawardi, 2 Madison Avenue, Markamarie, Hijab Sabine, dan Sofie. “Bergaungnya Indonesia lewat Jakarta Modest Fashion Week tentunya akan mengangkat desainer lokal ke mata dunia,” lanjut Ismail Semin selaku Founder Markamarie Creative.

Selain menghadirkan 25 fashion show dari para desainer, akan ada 50 booth merek di JMFW. Adapula #JMFW point yang bekerja sama dengan METRO Department Store, yang dibuka di Gandaria City, Trans Studio Mall Bandung, Pondik Indah Mall, dan Plaza Senayan.

“Kami meneliti dan mewawancarai para desainer di berbagai wilayah dunia, dari Timur Tengah, Malaysia hingga Indonesia, dan memahami bahwa ada ledakan energi dan kreativitas yang datang dari banyak negara mayoritas Muslim,” kata Laura Camerlengo, rekanan kurator kostum dan tekstil untuk Museum Seni Rupa San Francisco, seperti dilansir dari publikasi Wisconsin Muslim Journal,Jumat, (07/09/2018).

Karena itu, kata Laura, banyak fokus dari pameran adalah pada desainer dari negara-negara ini, dan ada desainer yang baru muncul.  Berfokus pada fashion wanita Muslim, Mode Muslim Kontemporer akan mengambil alih Museum de Young San Francisco mulai 22 September, untuk menjelaskan evolusi gaya Islam melalui Nibras hijab, influencer online, dan gamis nibras.

Pertunjukan akan mengeksplorasi mode sederhana selama beberapa tahun terakhir, dengan fokus pada peran hijab dan olahraga. Ini juga akan menampilkan desain khusus dari couturiers termasuk Oscar De La Renta dan Yves Saint Laurent, yang dirancang untuk mengakomodasi pertimbangan agama.

Selain itu, pameran juga menyentuh komunitas-komunitas di Eropa dan Amerika Serikat dan menampilkan kontribusi dari para desainer Inggris yang sedang naik daun, seperti pengusaha atletis Yasmin Sobeih.

“Pameran ini menunjukkan perbedaan regional, tetapi juga kesamaan di seluruh dunia.  Di beberapa area, kami telah melakukannya melalui representasi foto dan film. Kami juga memiliki bagian tentang media sosial dan fotografi seni, “tambah Jill D’Alandro, seorang rekan penyelenggara dan kurator seni kostum dan tekstil.

Islam menekankan konsep kesopanan dan kesopanan. Dalam banyak hadits kenabian yang otentik, telah dikutip bahwa “kesopanan adalah bagian dari iman”. Dan kode busana Islami adalah bagian dari keseluruhan pengajaran itu.

Mayoritas ulama Islam setuju bahwa kesopanan adalah wajib bagi pria dan wanita Muslim. Syari’ah membutuhkan perempuan untuk menutupi tubuh mereka kecuali untuk wajah dan telapak tangan, sementara laki-laki diperintahkan untuk menutupi semuanya dari pusar hingga lutut.

Jalur busana dan produsen internasional non-Muslim juga mencoba memasuki pasar ceruk untuk pakaian sederhana. Misalnya, label high-end Dolce & Gabbana baru-baru ini merilis koleksi jilbab dan abaya terkoordinasi, jubah longgar yang dikenakan oleh beberapa wanita Muslim.

Menurut IFDC, umat Islam diperkirakan menghabiskan USD 322 miliar untuk fashion pada 2018. Angka ini diproyeksikan akan tumbuh karena populasi Muslim akan meluas menjadi 2,2 miliar pada 2030.

Untuk informasi lebih lanjut klik disini